Istilah eating disorders bukanlah hal asing lagi di tengah masyarakat. Seiring perkembangan jaman, meningkatnya popularitas aktor dan aktris serta para model dengan bentuk tubuh yang cenderung kurus secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir masyarakat tentang bentuk badan yang ideal. Pada kaum perempuan khususnya, arti kata “cantik” itu sangat identik dengan badan yang kurus. Banyak orang yang terobsesi agar mendapatkan predikat tersebut sehingga pola makan dalam kesehariannya terganggu. Ada yang sangat membatasi asupan makan, ada yang makan kemudian dimuntahkan kembali dan sebagainya. Tanpa disadari, eating disorder banyak terjadi pada orang-orang disekitar kita bahkan mungkin terjadi pada diri kita sendiri. Lantas, bagaimanakah tanda-tanda dan gejalanya? Artikel berikut akan membahas hal tersebut dengan jelas.

eating-disorder

Bentuk ketidakpuasan seseorang terhadap bentuk badan yang ia miliki menyebabkan terbentuknya citra tubuh yang negatif, hal ini tentu saja akan mempengaruhi pola makan orang tersebut secara signifikan. Pembatasan jumlah konsumsi makanan dilakukan secara besar-besaran, tak peduli bagaimana penjelasan ilmiah yang sebenarnya asalkan tubuh cepat menjadi kurus, bagaimana pun metode dietnya dianggap itulah yang terbaik. Lama kelamaan, sikap tersebut terakumulasi dari hari ke hari sehingga menyebabkan gangguan psikologis dan kelainan serius perilaku makan yaitu disebut dengan “eating disorders”.

Jenis-jenis eating disorders diantaranya yaitu anorexia nervosa, bulimia nervosa, dan binge eating disorders.

  • Anorexia Nervosa

Anorexia Nervosa adalah bentuk gangguan pola makan yang menyebabkan seseorang ingin memiliki bentuk tubuh yang jauh dibawah normal (sangat kurus), bahkan berada dibawah standar ukuran berat badan yang seharusnya untuk umur dan tinggi badannya. Seseorang yang mengalami anorexia nervosa tidak pernah puas dengan kondisi tubuh yang dimilikinya, mereka menganggap bahwa berat badannya terlalu berlebih sehingga ingin terus-menerus menurunkan berat badan bahkan dengan cara tidak makan sekalipun. Mereka akan mengaku tidak merasa lapar dan merasa tidak nyaman saat makan.

Penderita anoreksia berada pada kondisi kelaparan yang berkepanjangan. Tentunya hal ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah komplikasi kesehatan yang sangat berbahaya bagi tubuh. Efek sampingnya adalah dapat mengganggu sistem organ, sistem endokrin, kardivaskular, gastrointestinal, pulmonary, dermatologi, renal, neurologi hingga hematologi.

  • Bulimia Nervosa

Bulimia nervosa adalah bentuk gangguan pola makan dimana penderitanya akan mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak kemudian mengeluarkannya kembali dengan sengaja, baik dengan cara memuntahkan bahkan menggunakan obat-obatan seperti obat pencahar dan diuretik. Mereka juga dapat melakukan olahraga yang berlebihan untuk membuang makanan yang telah dikonsumsinya.  Penderita bulimia nervosa ingin berat badannya selalu stabil pada suatu jumlah tertentu, sehingga mereka akan sulit menerima apabila terjadi fluktiatif dari berat badannya dan akan melakukan apa saja agar berat badannya tetap berada pada angka tersebut.

Pada umumnya, mereka akan mengonsumsi makanan dalam jumlah yang besar. Kebanyakan dari mereka tidak dapat mengontrol porsi makannya. Namun, berlawanan dengan kelakuannya tersebut mereka akan merasa sangat bersalah pada diri sendiri setelah mengonsumsi banyak makanan karena tidak ingin berat badannya bertambah sehingga akan mengeluarkan kembai makanan yang sudah dimakan.

  • Binge Eating

Binge eating disorders adalah gangguan pola makan dimana penderitanya mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sangat banyak dan tidak dapat dikontrol. Bedanya dengan dua gangguan pola makan sebelumnya, penderita binge eating tidak terlalu mempedulikan ukuran berat badan. Malah, kebanyakan penderita binge eating memiliki kelebihan berat badan atau obesitas.

Para penderit binge eating biasanya makan dalam waktu yang cepat dalam porsi yang besar, tidak akan berhenti makan jika belum merasa sangat kenyang, makan dalam porsi besar ketika tidak merasa lapar dan akan merasa depresi akan keadaan yang dia alami, terutama setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sangat banyak. Biasanya gangguan ini disertai dengan tingkat stress dari penderitanya yang cukup tinggi.

Lantas, bagiamana cara untuk mengetahui seseroang mengalami eating disorders atau tidak?

Anda dapat mencoba mengajukan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini lalu memberikan jawaban skor 0-6 dengan 0 sebagai nilai terendah dan 6 sebagai nilai tertinggi.

  1. Apakah Anda merasa gemuk?
  2. Apakah Anda merasa takut jika berat badan bertambah atau menjadi gemuk?
  3. Apakah berat badan yang Anda miliki mempengaruhi kepercayaan diri?
  4. Apakah bentuk tubuh yang Anda miliki mempengaruhi kepercayaan diri?

Lalu, jawab pertanyaan berikut dengan jawaban “ya” atau “tidak” :

  1. Apakah selama 6 bulan kebelakang Anda pernah merasa makan dalam porsi yang besar?
  2. Ketika Anda makan dalam porsi besar, apakah Anda kehilangan kendali untuk mengatur porsi makanan yang dikonsumsi?
  3. Apakah Anda makan dengan tempo lebih cepat dari biasanya?
  1. Apakah Anda tetap makan dalam porsi yang besar bahkan saat tidak merasa lapar?
  2. Apakah Anda merasa menyesal setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak?
  3. Dalam 6 bulan terakhir, kira-kira berapa kali Anda makan dengan kondisi kehilangan kontrol diri terhadap porsi makanan yang dikonsumsi?

Catat hasil jawaban Anda atas 10 pertanyaan tersebut. Anda memiliki risiko mengalami eating disorders apabila Anda:

  • Memiliki IMT <17,5 Kg/m2
  • Menjawan “4 atau lebih” pada pertanyaan no 2,3 dan 4
  • Manjawab “ya” pada pertanyaan no 5,6,7,8 dan 9
  • Menjawab “3 atau lebih” pada pertanyaan no 10

Tentunya tes di atas hanya dapat digunakan sebagai gamabaran sederhana. Untuk mengetahui dengan lebih jelas dan pasti apakah seseorang mengalami eating disorders atau tidak maka harus menjalani serangkaian tes dengan dilanjutkan dengan sesi konsultasi dengan tim medis maupun ahli psikologi.

Semoga bermanfaat.

Writer             : Tri Oktariani Putri, A.Md.Gz

Editor & Proofreader : Jansen Ongko, MS.c, RD

Referensi :

Syarafina, A. 2014. Hubungan Eating Disorder dengan Status Gizi pada Remaja Putri di Modeling Agency Semarang. Artikel Penelitian : Program Studi Ilmu Gizi (S1) Fakultas Kedokteran, Universitas DIponegoro Semarang. http://eprints.undip.ac.id/44220/1/616_Aqmariya_Syarafina___G2C009074__.pdf

Rachmat, N. 2012. Hubungan antara Faktro Individu dan Faktor Lingkungan dengan Kecenderungan Perilaku Makan Menyimpang Pada Siswi SMA Tugu Ibu Depok Tahun 2012. Skripsi : Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20320410-S-Nurulia%20Rachmat.pdf